AKANKAH INDONESIA BELAJAR ELI (English Language Institute)

Oleh Firdaus Aulia
Share Artikel Ini :

Belajar dari dunia pendidikan Amerika
Ada banyak masukan penting dalam proses belajar mengajar yang penulis amati ketika mengikuti program kursus singkat belajar bahasa Inggris di
English Language Institute (ELI), Syracuse Univerisity, New York. Dalam berbagai hal, ELI punya system dan metode yang sangat baik. Hal ini tidak mengejutkan mengingat ELI adalah salah satu tempat kursus bahasa Inggris terbaik di negeri paman sam ini. ELI unggul dalam hal tenaga pengajar, administrasi, kurikulum, evaluasi, monitoring dan berbagai hal yang menentukan bagusnya kualitas sebuah lembaga pendidikan. Sebuah sistem pendidikan yang patut ditiru oleh berbagai lembaga pendidikan di Aceh.
Penulis mengikuti program IELSP (International English Language Study Program), yaitu kursus singkat bahasa inggris untuk akademisi selama dua bulan di Amerika. ELI merupakan tempat kursus yang diminati oleh mahasiswa internasional, dan mahasiswa Indonesia ikut didalam salah satu kelas internasional tersebut. Program ini untuk membantu mahasiswa Indonesia yang lulus seleksi untuk meningkatkan nilai TOEFLnya. Selain itu juga sebagai pembelajaran budaya amerika. Untuk itu, selain belajar bahasa Inggris, kami juga mempelajari sejarah di Amerika dengan melakukan perjalanan ke museum dan tempat-tempat bersejarah di Amerika.
Mahasiswa Internasional yang belajar di ELI harus memenuhi 3 mata pelajaran yaitu textual communication, accuracy, dan oral. Semua level memakai ketiga mata pelajaran ini dengan buku yang sama namun tujuan pembelajaran yang berbeda. Dalam proses belajar mengajar setiap guru mata pelajaran setiap hari memakai 2 buku sebagai sumber belajar bagi siswa dan guide mengajar bagi guru. Menarik untuk dicermati ternyata buku-buku yang digunakan oleh guru-guru tersebut punya berbagai kesamaan seperti kosakata, topik bahasan, atau game. Hal ini sangat membantu mahasiswa untuk menghafal topik-topik yang sedang dipelajari, kosa kata baru, grammar dan lain sebagainya.
Tahap Awal
Tahap awal dari proses belajar mengajar di ELI ini adalah tahap penentuan kelas (placement test). Tahap ini dilakukan dua kali. Yang pertama dilaksanakan oleh ELI untuk seluruh mahasiswa. Keesokan harinya, setelah hasil placement test tersebut keluar, mahasiswa diminta masuk kelas sesuai dengan pembagian ELI. Kemudian, placement test tahap kedua dilaksanakan oleh guru mata pelajaran. ELI merupakan tempat belajar dengan banyak tantangan menarik, begitu juga dengan pembagian tahap ini. Di ELI ada 5 level kelas dimana kelas 1 merupakan kelas paling rendah, dan kelas 4 s.d 5 merupakan kelas advance. Mahasiswa yang berada dikelas advance telah memenuhi syarat untuk mengikuti perkuliahan di Syracuse University. Hal ini menyebabkan setiap mahasiswa dilevel 1 s.d 3, pada placement test tahap ke-2 berupaya mencapai level 4 dan 5 agar bisa masuk keuniversitas. Placement test tahap ke-2 ini dilaksanakan oleh guru mata pelajaran dimana beliau melihat progres setiap hari dari anak didik, dan menentukan apakah mahasiswa tersebut pantas naik level atau tidak. Namun, dalam praktiknya sangat sulit untuk naik tingkat.
Jumlah paling banyak mahasiswa disetiap kelas adalah 12 mahasiswa dengan satu guru disetiap mata pelajaran. Diawal pertemuan, minggu pertama dan kedua setiap dosen mata pelajaran mengupayakan agar setiap mahasiswa saling kenal dan hormat menghormati. Usaha yang dilakukan bukan dengan nasihat bahwa pertemanan itu baik, saling menghormati itu wajib dan lain sebagainya. Akan tetapi usaha tersebut cenderung dengan perkenalan diawal pertemuan dan kerja berpasangan (work in pairs). Work in pairs ini dilakukan dengan sangat intensiv dan pasangannya selalu berganti-ganti. Dalam kerja kelompok, mahasiswa diwajibkan untuk terus berdiskusi, saling beradu argumen, mencari solusi bersama, dan bekerja untuk kelompok. Tidak mengherankan jika kemudian mahasiswa ELI saling kenal dan hormat-menghormati, padahal mereka mereka berasal dari negara yang berbeda-beda. Ada yang dari jerman, Arab saudi, korea, thailand, cina dan lain-lain.
Pertemuan pertama setiap dosen melakukan hal yang sama yaitu brainstroming. Selain perkenalan diri, setiap dosen memberikan lembaran yang menjelaskan tentang tujuan umum pembelajaran dikelas tersebut, buku-buku referensi, tingkatan-tingkatan nilai dan hal-hal yang dinilai, tujuan spesifik dari mata pelajaran tersebut dan cara mencapai tujuan tersebut serta standar kelulusan kelas. Selain itu mahasiswa juga diwanti-wanti untuk disiplin, dimana jika terlambat 1 menit, maka dianggap absent. Sedangkan absen hanya dibolehkan 3 kali dalam 6 bulan dengan atau tanpa alasan, jika lebih dari tiga kali maka dianggap tidak mencapai persyaratan kelulusan kelas. Namun hal ini sangat balance antara waktu pelajaran dan batas absen yang diberikan. Kelas dimulai dari hari senin sampai hari jum’at dari jam 08.30 s.d 16.00. sedangkan hari sabtu dan minggu kelas diliburkan dan ELI mengadakan berbagai pesta untuk membantu siswa menghabiskan waktu liburnya. Jika ELI tidak memiliki agenda hari libur, lembaga ini akan memberikan dukungan seperti informasi tempat-tempat yang bisa dikunjungi, dan kadang kala mengantar mahasiswa ketempat tersebut dengan transportasi dari ELI sendiri.
Isi Pelajaran
Pelajaran diawali dengan percakapan ringan antara guru dengan murid selama 3 s.d 5 menit. Percakapan mengalir tanpa ada settingan. Setiap mahasiswa boleh berbicara tentang berbagai hal dan menanggapi tentang berbagai hal pula. Pada proses ini guru menanyakan mengenai tugas dari pelajaran sebelumnya, menanyakan pendapat mahasiswa tentang berbagai hal atau peristiwa, memberikan masukan-masukan ideologi, sharing budaya dan lain sebagainya.Penulis menganggap hal ini merupakan tahapan penting dalam memulai pelajaran karena bisa menjadi proses ice breaking (memecah kekakuan). Hal ini terbukti karena hampir selalu pembicaraan ringan seperti ini diselingi gelak tawa, dan tentunya membuat mahasiswa terterik untuk mengikuti pembicaraan. Setelah itu baru pelajaran dimulai.
Berbeda dengan tujuan belajar mengajar di Aceh pada umumnya dimana sumber ilmu mahasiswa berasal dari dosen, di ELI mahasiswa bisa mengupgrade diri dengan baik. Mahasiswa diajarkan mengunakan buku mata pelajaran. Hal-hal yang diajarkan adalah seperti bagaimana cara membaca poin penting, mengenal bagian-bagian yang berkaitan antar konten dan menyelesaikan soal-soal dengan menggunakan buku. Hal ini menjadi fokus tujuan utama di tiga bulan pertama proses belajar mengajar. Tidak heran jika dibulan-bulan berikutnya mahasiswa tidak kesulitan ketika guru mata pelajaran memberikan tugas-tugas yang belum dipelajari sama sekali.
Mahasiswa di ELI selalu disibukkan dengan berbagai tugas, baik itu tugas dari mata pelajaran yang telah maupun yang akan dipelajari. Dalam sehari mahasiswa mendapatkan tugas dari setiap mata pelajarannya. Diawal-awal bulan kami sering sekali tidur pada jam 1 malam untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut. Namun pengorbanan itu tidak sia-sia, karena melakukan berbagi tugas sangat membantu ketika quis, atau kegiatan dikelas dan lain sebagainya. Menurut pengamatan penulis tugas dan quiz serta kegiatan-kegiatan kelas lainnya telah disinkronkan terlebih dahulu sehingga mahasiswa yang kurang serius disalah satunya akan kesulitan dikegiatan atau tugas yang lain. Settingan seperti ini membantu mahasiswa dalam mempelajari suatu pelajaran.
Selain settingan itu, mahasiswa juga terdorong untuk belajar karena sulit untuk bisa lulus dari suatu mata evaluasi mata pelajaran. Setiap minggu ada quiz yang menguji ketiga mata pelajaran. Nilai quiz yang dianggap lulus adalah 75% dalam skala 1 s.d 100%. Dan, walaupun tidak selalu, kadangkalah guru memberikan hadiah ringan kepada mahasiswa yang mendapatkan nilai 100%. Hadiah tersebut berupa pinsil, atau souvenir, dan lain sebagainya.Sulitnya mendapatkan nilai yang dianggap lulus menyebabkan mahasiswa harus berusaha keras. Suatu setingan yang mendukung mahasiswa belajar serta dorongan untuk belajar yang sedemikian, hal ini menjadikan ELI sebagai salah satu tempat kursus terbaik di Amerika.
Didalam proses belajar mengajar setiap dosen memasukkan nilai cinta tanah air seperti keberhasilan negara dalam menghilangkan praktik perbudakan diAmerika, budaya-budaya Amerika yang bisa dibanggakan, isu politik dan lain sebagainya. selain itu juga mahasiswa diajak berfikir secara logis tentang berbagai isu-isu kekinian seperti masalah krisis pangan, global warming, produktifitas suatu negara dan lain sebagainya. Hal ini menjadi menarik karena mahasiswa bisa belajar sambil menggali informasi terbaru. Belajar tanpa ketinggalan informasi-informasi aktual dunia. Selain itu isu-isu global dan aktual seperti ini juga secara otomatis akan dibicarakan diluar kelas, dan tanpa sadar telah membantu proses belajar mengajar.
ELI
ELI dipimpin oleh Gerry Deberly dan dibantu oleh beberapa staff administrasi, ahli IT, dan guru tentunya. Gerry merupakan seorang pemimpin yang energic, ramah dan penuh dengan kejutan. Tidak heran jika kemudian banyak staff atau guru yang memuji Gerry didepan mahasiswa. Bahkan ada beberapa guru yang, walaupun tidak diperlihatkan secara jelas, mengidolakan Gerry. Mereka mengatakan bahwa Gerry adalah pemimpin yang baik, orang yang bisa memeriahkan suasana, dilain pihak dia juga tegas, serius, penuh dengan berbagai aturan-aturan yang proporsional.
Staff administrasi sangat membantu mahasiswa dalam berbagai hal. Mereka memastikan mahasiswa tidak dipusingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi sehingga menggangu dalam proses belajarnya. Seringkali staff administrasi memberikan pesan-pesan singkat melalui email tentang berbagai hal seperti tempat party untuk weekend, jadwal bus, cuaca esok hari dan apa yang harus dipersiapkan untuk berjaga dari cuaca tersebut, juga tentang urusan administrasi seperti surat apa yang harus dibawa untuk mengurus administrasi ini dan itu.
Selain itu staff administrasi juga mengatur berbagai party kecil-kecilan yang dilaksanakan oleh ELI untuk seluruh mahasiswa, guru dan staff di ELI. Salah satu party yang rutin dilaksanakan adalah parti makan pizza gratis setiap hari jum’at. Selain itu juga ada party barbegue dirumah ketua ELI, atau jalan-jalan ketempat wisata di Syracuse, meuseum dan lain sebagainya. tidak hanya party, staff ELI juga mengadakan seminar sederhana seperti seminar bagaimana cara menulis opini populer atau seminar tentang budaya dan sejarah Amerika. Secara singkat staff di ELI bertanggung jawab terhadap berbagai hal yang memberikan pengaruh terhadap proses belajar mengajar mahasiswa di ELI.
Guru-guru di ELI juga menarik. Mereka punya tujuan pembelajaran yang jelas ,sangat paham tentang belajar mengajar, menguasai bagian-bagian buku dengan baik. Setiap hari mahasiswa terus mendapatkan berbagai tantangan baik itu berupa soal-soal yang mengharuskan mereka berkompetisi, game-game menarik, atau sekedar kerja kelompok. Menurut pengakuan beberapa mahasiswa yang penulis tanyakan, setiap hari mahasiswa mendapatkan ilmu baru baik itu tentang pelajaran atau tentang informasi aktual, cara berkawan, komunikasi dalam kelompok, game-game terbaru dalam belajar mengajar dan lain sebagainya. Hal ini tidak hanya diakui oleh mahasiswa dari Asia seperti cina, tetapi juga dari jerman dan arab saudi yang terkenal sebagai negara dengan pendidikan yang baik.
Guru-guru menstimulus mahasiswa untuk menggunakan berbagai alat IT untuk membantu proses belajar mengajar. Murid-murid boleh berdiskusi dengan mereka menggunakan website, atau face book (sebuah media berkenalan melalui internet). Selain itu mereka juga memberdayakan power point, handy camera dan DVD. Handy camera digunakan untuk merekam presentasi mahasiswa, dan DVD untuk latihan mendengarkan percakapan bahasa inggri (listening). Hal-hal seperti ini selain menstimulus mahasiswa untuk menggunakan IT, juga memberikan kesan baru dan tidak membosankan dalam belajar. Untuk website, guru sering mengambil bahan pelajaran dari website seperti google.com, msn.com, bbc.com, npr.com atau youtube.com. suatu hal yang sederhana dan mudah dicontoh oleh guru-guru di Indonesia.
Pengalaman bertahun-tahun, dana yang cukup, dan didukung oleh pemimpin, staff, dan guru yang baik, itulah yang menyebabkan ELI pantas dicontoh. Walaupun ada berbagai nilai-nilai ketimuran yang tidak dipunyai oleh ELI, namun pendidikan Indonesia akan menjadi lebih baik jika mencoba belajar dari sini. Dengan berbagai penyesuaian dan pengkondisian, insyaallah pendidikan Indonesia hari demi hari akan menjadi lebih baik.


Thank'S Was Be My Guests
Judul: AKANKAH INDONESIA BELAJAR ELI (English Language Institute)
Ditulis oleh Firdaus Aulia
Rating 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link ke http://osfir.blogspot.com/2013/02/akankah-indonesia-belajar-eli-english.html. Terima kasih sudah singgah membaca di Gubuk Ane SEO Guide.

Blog Arsip

Entri Web Sponsored

Google+ Followers

Domain Reputation
My Ping in TotalPing.com

SEO Guide | Osfir Insan Bersahaja
(Firdaus Aulia) / CC BY 3.0

Recent Comments

Widget

SEO Guide - Trik Blogger SEO Internet Dan Artikel Pendidikan Bisnis Komputer Utilility Aplikasi Software Game PC Offline Osfir Corporation pUb.
Blog Directory & Search engine

Toolbar

Get our toolbar!